Universal Translator

Translate

BBC Breaking News

Radio Music Player Free Online

Meningkatkan Need of Achievement Siswa dengan Stimulasi yang Tepat

Tahun pelajaran baru menjelang. Jika anak dan orang tua sibuk mempersiapkan diri dengan segala kebutuhan pakaian, buku, alat tulis, sistem berangkat dan pulang sekolah serta biaya tentu saja, maka aktor utama kegiatan belajar mengajar atau guru, pasti akan mempersiapkan silabus, materi, media, dan sebagainya. Apa bedanya? Kalau yang pertama adalah pihak yang menunggu apa yang nati didapat dari sekolah, maka yang kedua adalah seorang kreator, narasumber, fasilitator dan penterjemah kurikulum menjadi sebuah kegiatan belajar yang penuh makna. Sebagai seorang yang ditunggu oleh para siswa di kelas, tentu setiap guru punya strategi masing-masing.
Sebagaimana sebuah pepatah "“The beginning is the most important part of the work.” ― Plato, The Republic, Permulaan adalah bagian yang paling penting dari pekerjaan, maka seorang gurupun harus mengawali KBM setiap semester atau setiap tahun dengan cara yang baik dan penuh makna. Kesan pertama yang dilihat oleh siswa sedikit banyak akan mempengaruhi hubungan antara guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar selanjutnya. Lalu, apa yang perlu kita sampaikan di pertemuan pertama dengan siswa kita?
Mungkin sudah makan sehari-hari bagi guru untuk berbicara di depan kelas baik pada awal tahun pelajaran maupun tidak. Namun kadang-kadang banyak guru yang kurang mendapat perhatian siswa karena gayanya yang terlalu menggurui. Maksudnya anak dijejali tentang apa saja yang harus dilakukan tanpa ada kesempatan untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Jadilah anak-anak akan menjadi robot-robot yang kurang aktif, kreatif dan punya need achievement yang rendah. Berbicara tentang need of achievement, atau disingkat N-Ach yaitu kebutuhan untuk mencapai prestasi, memang tidaklah sesulit penerapannya. Selama ini kita banyak mendengar banyak motivator yang menyampaikan strategi pencapaian prestasi dengan berbagai cara. Namun semua itu tidak akan berpengaruh jika seseorang tidak memiliki N-Ach yang tinggi. Kunci keberhasilan seseorang terletak pada tinggi rendahnya kebutuhan akan prestasinya.
Sumber: anacilacap.blogspot.co.id

Selanjutnya mungkin akan timbul pertanyaan apa kaitan N-Ach dengan guru yang mengawali tahun pelajaran baru? Tentunya kedua hal itu akan sangat terkait. Permulaan tahun pelajaran adalah momen yang tepat bagi guru untuk melejitkan semangat siswa agar memiliki N-Ach yang tinggi. Bukan hanya dengan menakut-nakuti mereka mengenai tata tertib sekolah, peraturan di kelas yang terlalu banyak, materi dan buku yang bejibun, sistem penilaian yang rumit serta kurikulum yang membebani mereka. Siswa perlu diingatkan atau disadarkan kembali mengapa sih mereka harus sekolah? Mengapa pula harus ada pelajaran yang sedang dihadapi sekarang ini? Apa gunanya itu untuk kehidupan riil mereka dan apakah mereka benar-benar butuh untuk belajar atau sekedar memenuhi tuntutan orang tua? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat digunakan untuk menggiring pola pikir siswa bahwa apa yang akan mereka pelajari adalah hal yang sangat penting dan mereka butuhkan. Siswa perlu diajak untuk memetakan kebutuhan mereka sendiri baik dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang kehidupan mereka. Stimulasi menggunakan model tanya jawab akan membantu kita menyelami pola pikir anak sekaligus menanamkan konsep pemikiran kita mengenai berbagai hal penting kepada mereka.
Misalnya dalam pelajaran bahasa Inggris, yang merupakan momok bagi sebagian siswa, siswa dapat diajak berbincang dan bertanya jawab dahulu mengenai mengapa kita harus belajar bahasa Inggris. Apa kaitannya dengan masa depan mereka dan apa yang harus dilakukan dalam jangka pendek maupun panjang.
Biarkanlah siswa melihat end goal dari kegiatan belajar yang mereka lakukan. Jika mereka sudah dituntun untuk menyadari tujuan akhir dari belajar, kemungkinan besar mereka akan lebih bersemangat untuk meraih prestasi. Jangan lupa ajarkan mereka cara membuat target prestasi dan tehnik atau strategi untuk mencapai target tersebut. Jika guru mampu menstimulasi siswa untuk meraih prestasi, maka sepanjang KBM di tahun pelajaran itu, guru tinggal memantau perkembangan siswa, mengingatkan tentang target mereka dan mendiskusikan strategi yang tepat tanpa harus selalu marah dan bersitegang dengan siswa yang kurang gregetnya.

#30DWC7_day14
#squad5
#keepspirit

Menimba Ilmu dari Sang Master

Weekend yang penuh makna di kampus Universitas Tidar Magelang. Sebuah seminar dengan pembicara ibu Helena, sang Master dari Unnes menyedot perhatian banyak mahasiswa dan guru bahasa Inggris dari Magelang dan sekitarnya. Memang peserta bukan hanya dari Magelang. Ada juga yang berasal dari Semarang, Temanggung, Demak bahkan Purwodadi. Para mahasiswa calon guru juga banyak yang hadir.
Mungkin salah satu penyebab banyaknya peserta yang hadir adalah pembicara yang sangat kompeten di bidangnya. Ibu Helena memang seorang dosen senior di Unnes yang sangat luar biasa. Apa yang beliau sampaikan berkaitan dengan pengajaran bahasa Inggris berbasis teori sosiokultural dari Vigotsky. Apa yang saya tangkap diantaranya adalah bahwa tujuan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia adalah untuk mempersiapkan kemampuan siswa agar dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris.
Berkomunikasi berarti bertukar makna (exchange meaning) antara satu orang dengan orang lainnya. Kesuksesan dalam berkomunikasi adalah ketika kita dapat dipahami oleh lawan bicara kita berdasar konteks situasi dan konteks budaya. Sedangkan kesuksesan guru mengajar bahasa Inggris dapat dilihat dari outcome siswanya. Jika siswanya sudah berhasil menciptakan teks baik lisan maupun tulisan meliputi short functional text, transactional/interpersonal conversation serta monolog atau essay maka guru tersebut dianggap sukses dalam mengajar kan bahasa Inggris.
Peran guru bahasa Inggris adalah memfasilitasi siswa dengan berbagai aktivitas yang berfungsi sebagai scaffolding atau kerangka bagi siswa untuk mencapai tujuan akhir pembelajaran bahasa Inggris yaitu berkomunikasi secara aktif menggunakan bahasa Inggris. Jadi guru harus kreatif dalam menciptakan aktivitas yang efektif, efisien sekaligus menyenangkan bagi siswa dalam mempelajari bahasa Inggris.
Selamat buat panitia yang telah sukses mengadakan acara tersebut. Dan selamat juga buat para peserta semoga dapat segera mengimplementaskan ilmu yang diperoleh dalam seminar tersebut.
Semoga bermanfaat.
Sampai jumpa pada info kegiatan serupa...see you all.

#30DWC7
#seminarpendidikan
#squad5_day11

Membendung Air Mata Buaya dengan Tindakan Preventif dan Persuasif

Halo Bunda, gimana kabar si kecil. Semoga baik-baik saja, tetap sehat, ceria dan lucu.
Dalam artikel parenting kali ini, saya akan mencoba mengulas tentang bagaimana sih kita mengatasi si kecil yang kadang suka mengeluarkan air mata buaya. Sudah tahu kan arti air mata buaya. Konon istilah ini diambil dari binatang aslinya yaitu buaya yang memang suka mengeluarkan armata ketika mengunyah mangsanya. Aneh ya? Seolah-olah dia sedih sudah menghabisi mangsanya dengan lahap sebagai makan siang atau malamnya. Sungguh sebuah aksi pura-pura yang luar biasa, kan?
Kembali ke air mata buaya sebagai istilah di dunia parenting. Sebenarnya itu adalah tangisan pura-pura yang sering dikeluarkan oleh anak kecil dengan berbagai alasan. Sebuah artikel di http://breaktime.co.id/ menjelaskan bahwa air mata buaya anak kecil adalah alat untuk menarik perhatian orang tua atau orang dewasa lain, untuk memanipulasi keadaan sehingga dia dapat menguasai situasi dan mendapatkan apa yang dia mau. Pendek kata, anak menggunakan tangisan sebagai senjata untuk menaklukkan hati orang tua atau orang yang mengasuhnya.
Sumber: kabarjambi.net
Apakah bunda pernah mengajak si kecil berbelanja, lalu dia menangis bahkan berguling-guling di lantai ketika minta sesuatu yang tidak kita kabulkan. Itulah contoh situasi ketika air mata buaya sedang digunakan. Apakah bunda merasa malu melihat perilaku yang demikian kemudian mengabulkan keinginanya yang semula bunda larang. Nah inilah yang perlu diluruskan.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan juga dari beberapa buku referensi mengenai kondisi tersebut, ternyata banyak ibu-ibu yang kurang benar dalam merespon air mata buaya.
Dalam artikel yang sama di http://breaktime.co.id/ dicontohkan bagaimana jika anak menangis pura-pura misalnya saat jatuh. Tindakan preventifnya adalah pada saadia akan bermain, selalu ingatkan untuk hati-hati dan singkirkan hal-hal yang beresiko membuat dia jatuh. Jika dia benar-benar jatuh lakukan tindakan persuasif. Bunda tidak perlu baper menghadapinya. Dalam kasus jatuh, biasanya orang tua akan kaget, terus bergegas menyongsong lalu bertanya dengan nada khawatir, bahkan ada yang membentak atau mengatakan, dasar kamu nggak hati-hati sih. Makanya jangan suka meleng. Nah, ternyata hal itu akan memicu anak untuk terus menerus memanfaatkan air mata buaya sehingga selalu mendapat perhatian orang tua dan ini tidak akan mendidik kemandirian dan kemampuannya mengatasi masalahnya sendiri. Tindakan persuasif yang benar adalah, dekati dia dengan ekspresi biasa, tanyakan apakah ada yang luka atau apakah dia baik-baik saja, bantu dia berdiri dan membersihkan kotoran yang menempel, perbaiki hal-hal yang rusak akibat jatuh tersebut dan kembali ingatkan bahwa lain kali dia harus lebih hati-hati. Simpel kan?
Pada kasus anak yang menangis karena keinginanya tidak terpenuhi saat belanja, juga ada dua tindakan yang dapat kita lakukan. Tindakan preventifnya adalah sebelum berangkat belanja, anak yang sudah bisa diajak diskusi, sekitar umur 3 tahun ke atas, perlu dilibatkan dalam membuat list belanjaan yang akan dibeli. Perlu juga dia tahu bahwa bunda tidak membawa uang berlebih sehingga jika ingin sesuatu harus sudah dimasukkan list dan sudah disesuaikan dengan anggaran. Tindakan persuasif yang dapat diambil yaitu saat di TKP belanja dia tetap menangis, maka kita bisa memeluknya, mengajaknya ke suatu tempat yang agak tenang dan jangan pedulikan rasa malu kita karena dilihat oleh banyak orang. Jika anak sudah tenang, biarkan dia mengutarakan maksudnya, dan dengan bahasa yang mudah dipahami, anak bisa dijelaskan mengapa bunda melarangnya membeli barang tersebut.
Jika ini tidak berhasil, langkah terakhir lebih baik ajak dia pulang dulu dan kegiatan belanja bisa dilakukan lain waktu. Jika nanti dia akan ikut lagi, harus diingatkan bahwa meskipun menangis bunda tidak akan menuruti keinginan anak ketika barang yang diminta tidak masuk dalam list belanjaan. Jika anak tidak setuju atau pura-pura setuju tetapi tetap mengingkarinya, maka pada kegiatan belanja berikutnya lebih baik anak tidak usah diajak dulu sampai dia bisa membuktikan bahwa tidak akan mengulanginya lagi.
Kesannya memang bertele-tele bunda, bahkan ada yang beranggapan bahwa mengapa pelit sama anak sampai dibiarkan nangis begitu. Jika bunda memang konsekuen ingin mendidik anak, maka suara bagaimanapun sebaiknya diabaikan saja. Karena efek perilaku tersebut akan kelihatan ketika dia sudah dewasa. Jika pendidikan yang kita lakukan benar, Insya Allah anak akan terbiasa mengendalikan keinginan dan terbiasa untuk diajak berfikir menggunakan logika yang benar.
Kesimpulannya dalam menghadapi anak kita jangan terlalu melibatkan emosi, tetapi biasakan berdiskusi, dijelaskan dengan bahasa yang dia pahami dan biarkan juga dia mengutarakan semua yang dia rasakan dan dia mau.
Wallohu a’lam bis showab. Semoga bermanfaat.

#30DWC7
#keeponfire
#writingfighter
#day8_squad5

Barang Langka itu Bernama Tata Krama

Andin masuk ke sebuah toko dengan tergesa. Ada seorang perempuan muda yang sedang dilayani oleh pelayan yang spontan menggeser tangannya yang mengenggam handphone. Namun, entah kenapa Andin merasa sangat tersinggung ketika perempuan muda itu dengan cepat memindahkan posisi hanponenya yang tadinya dekat dengan posisinya berdiri, ke sisi yang lain.
Dia jadi merasa tertuduh sebagai maling. Dengan muka masam dia keluarkan smartphonenya dengan bahasa tubuh yang seolah-olah berkata, nih aku juga punya. Dengan muka datar dia memainkan smartphone sambil menunggu giliran dilayani. Perempuan itu seperti merasa kalau Andin tersinggung. Sebentar-sebentar dia memandang ke arah Andin seolah-olah ingin mengajak bicara. Namun Andin sama sekali tidak menyapa atau sekedar tersenyum padanya, bahkan sampai perempuan itu berlalu.
Apakah Andin yang terlalu sensi atau perempuan itu yang memang kurang sopan.
Dalam kehidupan kita yang banyak berinteraksi dengan orang lain, memang kita seringkali dihadapkan pada situasi dimana ada orang yang tidak dapat menerima apa yang kita lakukan. Dalam kasus di atas, sekilas perempuan itulah yang salah karena seolah-olah mencurigai Andin atau terlalu protektif terhadap barang berharganya sampai tidak menyadari bahwa tindakannya itu bisa membuat orang lain tersinggung.
Di sisi lain mungkin memang Andin yang terlalu sensi dan su’udzon pada perempuan itu. Dia menganggap si perempuan menuduhnya akan mengambil handphonenya. Anak muda jaman sekarang menyebutnya baper. Padahal mungkin saja perempuan itu ingin memberi tempat pada Andin dengan menyingkirkan tangannya yang kebetulan membawa handphone, agar Andin lebih leluasa berdiri. Dan tidak seharusnya Andin langsung bereaksi negatif dengan cepat-cepat mengeluarkan smartphone dan pasang muka jutek.
Dari pandangan dua kacamata tersebut, dapat disimpulkan bahwa kita memang harus lebih berhati-hati dalam berperilaku dan berkata-kata. Itu adalah termasuk adab atau tatakrama bergaul demi kehidupan yang tenang dan tenteram. Seiring perkembangan jaman, jarang sekali orang yang memperhatikan tatakrama bergaul sampai seperti itu. Perilaku semau gue sering terlihat di mana-mana. Misal melewati orang yang duduk-duduk di jalan kampung tanpa menyapa, cuek saja lihat orang tua berdiri di bus malah asyik mainan gadget dan telinga tertutup earphone, tidak peduli dengan orang yang butuh pertolongan dan saling mencurigai/membuka aib teman serta sejumlah perilaku lain yang kurang menunjukkan tata krama.
Alangkah indahnya jika kita diberi nikmat oleh Allah dengan memiliki perilaku yang sopan dan budi pekerti yang halus. Tentu akan banyak orang yang berkenan dengan keberadaan kita dan bukan tidak mungkin mereka akan selalu mendoakan kebahagiaan dan kesuksesan kita. Amin
#30DWC7
#keeponfighting
#squad5
#writingfighter